Responsive Ad Slot

Entri yang Diunggulkan

Info : Cara Menjadi Pemandu Wisata Yang Baik

Ingin menjadi Pemandu Wisata yang berhasil. , Bekerja di  dalam ruangan, dan duduk berhadapan dengan meja serta tumpukan buku atau pun ber...

Ads Slot

Info : Nasi Tumpeng

Rabu, 06 Juli 2016

Mendengar kata “Tumpeng” tentu sudah tidak absurd lagi di indera pendengaran kita. Tumpeng merupakan sajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut. Olahan nasi biasanya berupa nasi kuning, meskipun ada juga yang menggunakan nasi putih biasa atau nasi uduk. Cara penyajian nasi menyerupai ini merupakan khas Jawa atau masyarakat betawi keturunan Jawa.

Tumpeng biasa disajikan ketika kenduri atau perayaan peristiwa-peristiwa penting. Tumpeng biasanya disajikan di atas tampah (wadah bulat besar dari anyaman bambu) dan diberi ganjal daun pisang. Masyarakat Jawa, Bali, dan Madura memiliki tradisi untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting menyerupai selamatan pernikahan,kehamilan, kelahiran bayi, dan tasyakuran (berterima kasih kepada Tuhan).


Hampir semua masyarakat Indonesia di lingkungan pedesaan maupun di perkotaan mengenal sajian nasi tumpeng ini. Tumpeng ini kaya akan sarat dan makna. Ada filosofi dari bentuk nasi ini. Hal ini berkaitan bersahabat dengan letak geografis Indonesia, terutama pulau Jawa yang terdapat jajaran gunung berapi. Pada jaman dahulu, ketika agama Hindu masuk ke Indonesia, ada banyak orang yang menganut dan memeluk agama Hindu. Penganut agama Hindu memiliki tradisi memuliakan gunung sebagai kawasan bersemayam para Hyang atau arwah leluhur. Nasi yang berbentuk kerucut ini dimaksudkan untuk membuat representasi dari gunung Mahameru, gunung suci di mana para dewa-dewi bersemayam.

Keberadaan tumpeng sudah ada semenjak lama, sebelum Islam masuk ke pulau Jawa. Namun terjadi akulturasi budaya pada perkembangannya dan berkaitan dengan filosofi Jawa. Hal ini diyakini sebagai pesan leluhur untuk memohon kepada Yang Mahakuasa yang Maha Kuasa. Sebagai teladan dalam tradisi masyarakat Islam di Jawa ketika mengadakan selamatan atau tasyakuran, mereka menggelar pengajian Al-qur’an sebelum penyajian tumpeng.

Menurut tradisi Islam Jawa, “Tumpeng” merupakan kependekan dalam bahasa Jawa : ”yen metu kudu sing mempeng” (bila keluar harus dengan sungguh-sungguh). Ada satu nama makanan lagi yaitu “Buceng” yang terbuat dari beras ketan, kependekan dari “yen mlebu kudu sing kenceng” (bila masuk harus dengan sungguh-sungguh).

Sedangkan lauk pauk-pauknya ada 7 macam, angka 7 dalam bahasa Jawa ialah pitu, yang berarti pitulungan (pertolongan). Tiga kalimat kependekan tersebut berasal dari sebuah doa dalam surah Al Isra’ ayat 80 yang artinya “Ya Tuhan, masukkanlah saya dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah saya dengan sebenar-benarnya keluar serta jadikanlah dariMu kekuasan bagiku yang menunjukkan pertolongan”.

Maka dari itu, ketika seseorang menggelar hajatan dengan tumpeng untuk program selamatan maksutnya yaitu pemberian dari Yang Mahakuasa dan menerima kemulian dalam hidup, dengan berdoa dan berusaha secara sungguh-sungguh. 

Dalam masyarakat yang masih memiliki tradisi menggelar kenduri tradisional, tumpeng menjadi salah satu adegan yang penting dalam program tersebut. Perayaan kenduri sering kali untuk program selamatan dan syukuran, memohon keselamatan dan berterima kasih kepada Yang Mahakuasa yang Maha Kuasa atas rejeki atau hasil panen yang melimpah serta keberkahan yang lain.

Saat ini tumpeng juga sering disajikan dalam rangka merayakan ulang tahun. Hal ini sebagai rasa syukur sebab masih diberikan umur, memohon keberkahan umur, dan keberkahan dalam hidup. Seiring dengan perkembangan zaman, nasi tumpeng sudah tampil lebih beragam dengan banyak kreasi. Salah satu teladan ialah nasi tumpeng untuk perayaan pesta anak-anak, masih tetap mempertahankan bentuk lancip kerucut namun sedikit dipermak dengan di hiasi boneka Barbie di adegan tengahnya. Bentuk gunungannya dibuat ada lekukan-lekungan di sisi luar sehingga bentuknya lebih menarik dan cantik, juga dengan garnis yang diletakkan bersama lauk-pauknya. 

Lauk-pauk yang menyertai tumpeng beraneka ragam. Sebenarnya tidak ada lauk-pauk baku yang disajikan dengan nasi tumpeng di atas tampah. Akan tetapi, beberapa lauk-pauknya yang biasanya menyertai tumpeng ialah telur dadar, ikan asin, perkedel, abon, kedelai goreng, timun, dan daun seledri. Namun untuk lebih bervariasi, mampu menyertakan tempe kering, srundeng, urap kacang panjang, ikan asin, dan lele goreng.

Dalam pemilihan lauk-pauk tersebut mempunyai pengartian makna tradisional tumpeng. Lauk-pauk yang dianjurkan terdiri dari hewan darat(ayam atau sapi), hewan laut (rempeyek teri, ikan bandeng, ikan lele) dan sayur mayur (kankung, bayam atau kacang panjang). Setiap lauk-pauk tersebut mempunyai pengertian tersendiri dalam budaya Jawa dan Bali. 

Lomba membuat dan merias tumpengpun  sudah semakin marak ketika ini. Misalnya saja dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, para ibu dengan sangat antusias berkelompok membuat tumpeng dan meriasnya dengan kreasi masing-masing. Contoh lain juga dalam ujian praktek di sekolah, berkreasi membuat tumpeng salah satu bahan yang diujikan.

Ketrampilan membuat tumpeng mengandung banyak aspek mulai kreatifitas penampilan, ketelatenan, kerjasama (karena biasanya akan dikerjakan oleh lebih dari satu orang), dan rasa juga harus sangat diperhatikan. Karena penampilan indah saja tidak cukup, tumpeng harus mempunyai rasa yang pas dan lezat mengingat biasanya makanan ini disajikan untuk orang banyak.

Nah, itu tadi ulasan wacana sejarah asal-usul, filosofi, dan fungsi sajian tumpeng serta beberapa aktifitas yang digelar dengan melibatkan Sajian Nasi Tumpeng. Lestarikan dan hidupkan masakan Indonesia!
Recent Search Term : ####

Latest